D. Zawawi Imron, PenyairMEMBACA buku ini kita seperti diajak mengembara dalam lautan hikmah para aulia dan orang-orang suci. Gaya penulisannya, mengingatkan kita pada kitab-kitab sastra klasik pesantren seperti kitab Al-Barzanji karya Syekh Jakfar Al-Madani atau kitab Diba’ karya Syekh Aburrahman ad-Diba’i yang memadukan prosa dan syair. Selain berisi kata hikmah yang sarat makna, juga menyajikan data sejarah yang cukup penting bagi generasi masa kini. Buku ini merupakan model baru dalam penulisan sejarah, setelah sebelumnya marak dengan model novel sejarah. Melalui untaian kata yang indah dan penuh hikmah, Raedu Basha tidak saja mampu membuka fakta sejarah para ulama yang dilipat tetapi juga berhasil menghadirkan sejarah dalam relung jiwa.
DR. Al-Zastrouw Ngatawi, BudayawanBISMILLAH… Membaca kumpulan sajak ini semacam menghadiri undangan kenduri yang ditawarkan, terlebih ketika membaca pilihan judul Hadrah Kiai, seolah kita diajak untuk “hadrah” (menghadirkan) spiritualitas diri kita dalam membaca manakib ulama Nusantara. Maka tak heran, identitas kiai ala Nusantara bermunculan silih berganti di setiap puisi, semisal “serat”, nama “Syekh Sayyid Jumadil Kubro” yang merupakan logat lokal sebagai akulturasi dari nama Arab. Ungkapan kata “pamor”, “sowan”, “terompah”, dan sejumlah nama tokoh yang menguatkan kumpulan sajak ini sebagai manakib. Lebih khasnya lagi, “narasi gandul makna miring”, istilah “syarah” dan “hasiyah”, dan nama-nama kitab yang akrab di dunia pesantren. Kekuatan penghayatan penulis terhadap sosok kiai yang menjadi sumber inspirasi cukup akurat referensi dan isyarat ketersambungan batin antara penulis dan sosok yang ditulis, seperti pada judul puisi Terompah Kiai As’ad Sukorejo. Sehingga diduga puisi-puisi ini lahir dari mimpi atau wasilah ruhiyah secara sadar. Akhirnya, tak banyak yang bisa dituliskan sebagai komentar kecuali ungkapan: Selamat menyelami roh puisi dan penggalian penulisnya untuk benar-benar mencapai hadrah para kiai. Bismillah ‘ala barakatillah.
K.H.R. A. Azaim Ibrahimy, Pengasuh Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo.
BUKU yang menuliskan riwayat para kiai dan aulia Nusantara ini diungkapkan dalam bentuk sastra. Ini dapat dianggap sebagai revivalisme sastra lama nusantara yang selama ini tenggelam di tengah arus sastra Barat modern. Karya Raedu Basha ini membawa nuansa baru dalam sastra Indonesia modern.
Dr. KH. Agus Sunyoto, Penulis Buku Atlas Walisongo.
KARYA ini perlu benar-benar diapresiasi karena memiliki kekuatan luar biasa dalam mengenalkan wajah Muslim Nusantara dan sekaligus menjadikan nilai-nilai Islam Indonesia itu mengalami proses internalisasi pada diri kita. Melalui ungkapan dan narasi puitis, Raedu Basha menyapa nurani kita untuk berdialog dengan Islam yang kontekstual ini; suatu pendekatan yang jarang dilakukan oleh penulis yang lain. Pendekatan ini menjadikan nurani kita tersentuh dan tergugah untuk bukan sekadar mengenal, tapi masuk terlibat di dalamnya. Saya sangat menikmati sekali membacanya.
Prof. Dr. KH. Abd A’la, Rektor UIN Sunan Ampel Surabaya.
KUMPULAN sajak ini secara tematik menawarkan keunikan tersendiri: berisi narasi-narasi puitik mengenai kiprah kiai-kiai Nusantara. Lebih dari sekadar penyebaran agama, kiprah para kiai itu merupakan upaya untuk menumbuhkan religiusitas yang berpijak di atas tanah yang mereka jejaki. Salah satu sajak yang paling menampakkan perspektif yang menarik dalam buku puisi ini:
adakah syahadat berdentang
sebagaimana lirik tak ingin ditinggalkan musik
sebagaimana jawa tak ingin kehilangan kalijaga
sebagaimana kata-kata tak ingin dilewatkan makna
semar bernyanyi, gareng dan petruk menari-nari
bagong datang memetik gitar
kuhentikan serulingku ketika kau berkata
bahwa sebaiknya memuisikan doa
Dengan sajak seperti itu, dua hal terangkum sekaligus. Pertama, bahwa ulama Nusantara berusaha memadukan inti ajaran agama dengan akar budaya setempat. Kedua, bahwa melalui jalan puisi, penghayatan iman dapat tersalurkan dengan lebih rileks dan sublim.”
Joko Pinurbo, Penyair

Permalink
Hi, this is a comment.
To get started with moderating, editing, and deleting comments, please visit the Comments screen in the dashboard.
Commenter avatars come from Gravatar.